Wednesday, May 21, 2008

Kisah 3 Sahabat: KURA-KURA, KODOK & ULER KAKI SERIBU

Ada tiga sahabat, satunya kura2..satu lagi kodok.. terus satunya lagi uler kaki seribu. Suatu hari kura2 mengundang dua temennya kerumahnya buat pesta kecil2an. So..., mereka bertiga bikin pesta kecil di rumah kura2.

Setelah asyik ngobrol, makan, minum and lain lain...si kodok berkata, "Eh.. dari tadi kayaknya ada yang kurang ya.. elu pada ngerasa gak..?? Oh iya kita kok gak ngerokok ya.. pantesan mulut asem banget nih.."

Kura2: "iya ya..sorry gue lupa nggak nyediain rokok... kalo gitu lu beli aje deh 'Dok.. warungnya deket khan..!"

Kodok: "Lho koq gue sih.. khan tuan rumahn ya elu 'Ra.."

Kura2: "iya sih.. tapi khan gue jalannya lambat. kalo elu khan bisa cepet..!!"

Kodok: "Ah.. nggak bisa gitu donk!!.. lagian kalo soal cepet.. pasti si uler kaki seribu lebih cepet dari gue.. kakinya aja ada seribu!!!"

Kura2: "Oh iya ya.. Elu aja deh yang pergi.. uler Kaki seribu.."

Uler K.1000: "koq jadi gue sih.."

Kodok : "Udah ..nggak apa apa.. elu aja.. buruan.."

Akhirnya si Uler K.1000 pergi juga untuk membeli rokok. Si Kodok dan Kura2 nungguin sambil ngegosipin artis artis lokal. Lima menit menunggu...si Uler K.1000 belum dateng juga... 10 menit.. 20 menit...satu jam...dan ternyata sampe tiga jam Uler K.1000 gak nongol2 juga.

Kodok: "Kooq Uler K.1000 nggak pulang2 ya..?"

Kura2: "Iya nih..gue jadi kuatir..kita susulin aja yuk, Dok...!"

Kodok: "ayuk deh..!"

Tapi pas si kura2 buka pintu... ternyata uler K.1000 udah ada di depan pintu.

Kura2: "Nah ni dia..!"

Kodok: "Iya nih dari tadi ditungguin juga... mana rokoknya. mulut gue udah asem banget nih..?!"

Uler K.1000: "Boro2 rokok... jalan aja belom..!!"

Kodok: "Haah belom jalan... emangnya dari tadi ngapain aja...?

Uler K.1000: "Yeeeeeeeee.. elu nggak liat nih... gue lagi PAKE SEPATU!!!???????

Friday, May 16, 2008

Kalung Mutiara Anisa

Ini cerita tentang Anisa, seorang gadis kecil yang ceria berusia Lima tahun. Pada suatu sore, Anisa menemani Ibunya berbelanja di suatu supermarket. Ketika sedang menunggu giliran membayar, anisa melihat sebentuk kalung mutiara mungil berwarna putih berkilauan, tergantung dalam sebuah kotak berwarna pink yang sangat cantik. Kalung itu nampak begitu indah, sehingga Anisa sangat ingin memilikinya. Tapi... Dia tahu, pasti Ibunya akan berkeberatan. Seperti biasanya, sebelum berangkat ke supermarket dia sudah berjanji tidak akan meminta apapun selain yang sudah disetujui untuk  dibeli. Dan tadi Ibunya sudah menyetujui untuk membelikannya kaos kaki ber-renda yang cantik.  Namun karena kalung itu sangat indah, diberanikannya bertanya, "Ibu, bolehkah Anisa memiliki kalung ini ? Ibu boleh kembalikan kaos kaki yang tadi..."

Sang Bunda segera mengambil kotak kalung dari tangan Anisa. Dibaliknya tertera harga Rp 15,000. Dilihatnya mata Anisa yang memandangnya dengan penuh harap dan cemas.Sebenarnya dia bisa saja langsung membelikan kalung itu, namun ia tak mau bersikap tidak konsisten...

"Oke ... Anisa, kamu  boleh memiliki Kalung ini.  Tapi kembalikan kaos kaki yang kau pilih tadi.  Dan karena harga kalung ini lebih mahal  dari kaos  kaki itu,Ibu akan potong uang tabunganmu untuk minggu depan. Setuju ?"

Anisa mengangguk lega, dan segera berlari riang mengembalikan kaos kaki ke raknya.

"Terimakasih..., Ibu."

Anisa sangat menyukai dan menyayangi kalung mutiaranya. Menurutnya, kalung itu membuatnya nampak cantik dan dewasa. Dia
merasa secantik Ibunya. Kalung itu tak pernah lepas dari lehernya, bahkan ketika tidur. Kalung itu hanya dilepasnya jika dia mandi atau berenang.  Sebab, kata ibunya, jika basah, kalung itu akan rusak, dan membuat lehernya menjadi hijau.

Setiap malam sebelum tidur, ayah Anisa membacakan cerita pengantar tidur. Pada suatu malam, ketika selesai membacakan sebuah cerita, Ayah bertanya, "Anisa..., Anisa sayang Enggak sama Ayah ?"

"Tentu dong... Ayah pasti tahu kalau Anisa sayang Ayah !"

"Kalau begitu, berikan kepada Ayah kalung mutiaramu..."

Yah..., jangan dong  Ayah ! Ayah boleh ambil 'si Ratu' boneka kuda dari nenek... ! Itu kesayanganku juga."

Ya sudahlah sayang,... ngga apa-apa !".  Ayah mencium pipi Anisa sebelum keluar dari kamar Anisa.

Kira-kira seminggu berikutnya, setelah selesai membacakan cerita, Ayah bertanya lagi,  "Anisa..., Anisa sayang
nggak sih, sama Ayah?"

"Ayah, Ayah tahu bukan kalau Anisa sayang sekali pada Ayah?"

"Kalau begitu, berikan pada Ayah Kalung mutiaramu."

"Jangan  Ayah... Tapi kalau Ayah mau, Ayah boleh ambil boneka Barbie ini." Kata Anisa seraya menyerahkan boneka Barbie yang selalu menemaninya  bermain.

Beberapa malam kemudian, ketika Ayah masuk ke kamarnya, Anisa sedang duduk di atas tempat tidurnya. Ketika didekati, Anisa  rupanya sedang menangis diam-diam. Kedua tangannya tergenggam di atas pangkuan. air mata membasahi pipinya...

"Ada apa Anisa, kenapa Anisa ?"

Tanpa berucap sepatah pun, Anisa membuka tangannya. Di dalamnya melingkar cantik kalung mutiara kesayangannya. "Kalau Ayah mau...ambillah kalung Anisa."

Ayah tersenyum mengerti, diambilnya kalung itu dari tangan mungil Anisa. Kalung itu dimasukkan ke dalam kantong celana. Dan dari kantong yang satunya, dikeluarkan sebentuk kalung mutiara putih. Sama cantiknya dengan kalung yang sangat disayangi Anisa.

"Anisa... ini untuk Anisa. Sama bukan? Memang begitu nampaknya, tapi kalung ini tidak akan membuat lehermu menjadi  hijau." Ya..., ternyata Ayah memberikan kalung mutiara asli untuk menggantikan kalung mutiara imitasi Anisa.

Demikian pula halnya dengan Allah S.W.T. terkadang Dia meminta sesuatu dari kita, karena Dia berkenan untuk menggantikannya dengan yang lebih baik. Namun, kadang-kadang kita seperti atau bahkan lebih naif  dari Anisa: Menggenggam erat sesuatu yang kita anggap amat berharga, dan oleh karenanya tidak ikhlas bila harus kehilangan. Untuk itulah perlunya sikap ikhlas, karena kita yakin tidak akan Allah  mengambil sesuatu dari kita jika tidak akan menggantinya dengan yang lebih baik...

Tuesday, May 13, 2008

Plaaaakk...!!

Suatu hari ada 3 orang Madura naik sebuah sepeda motor tanpa menggunakan helm. Tiba di sebuah perempatan jalan mereka berhenti karena lampu lalu lintas sedang berwarna merah. Tiba-tiba seorang Polisi Lalu Lintas berjalan ke arah mereka. Karena tidak menggunakan helm plus berboncengan tiga orang, tentu saja langsung ditegur oleh Polisi tersebut.
"Hai, kalian. Sini ke pos dulu." ujar Polisi tersebut sambil mencabut kunci kontak motor.
Tiba di pos, langsung aja Polisi itu menanyakan surat-surat. "Mana STNK dan SIM?"
"Waduh, saya gak punya SIM pak..." ujar Orang Madura pertama dengan logat Madura yang kental.
"Hmmm..., kamu orang Madura ya?" tanya Polisi berbasa-basi.
"Ya iyaa, pak. Saya Orang Madura taiye." jawab orang Madura pertama.
Plaaaakk...!! Orang Madura kena terduduk kena tampar Polisi yang lengannya sebesar betis orang Madura itu.

Kemudian Polisi itu mendekati orang Madura kedua yang berdiri tidak jauh dari orang Madura pertama.
"Kamu orang Madura juga?" tanya Polisi.
"Iiiiyaa... pak. Saya juga rang orang madura taiye." jawab orang Madura kedua dengan logat Maduranya yang juga kental. Suaranya terdengar agak bergetar ketakutan.
Plaaaakkk...!!! Orang Madura kedua juga jatuh terduruk terkena tamparan Polisi.

Lalu Polisi itu mendekati orang Madura ketiga dan mengajukan pertanyaan yang sama, "Kamu orang Madura juga?" tanya Polisi.
Dengan ketakutan, orang Madura ketiga mikir, "Waduuuhh... Kayaknya nih Polisi sentimen sama orang Madura taiye. Masak dua teman saya kena tampar gara-gara jawab dari Madura."
Akhirnya dengan suara bergetar karena takut, orang Madura ketiga menjawab, "Kalo saya dari Solo, pak...." lagi-lagi dengan logat Maduranya yang kental.
Plaaaakkk....!! Plaaaaakkkk...!! Kena tampar dua kali.....


note:No offense, just kidding...