Friday, May 16, 2008

Kalung Mutiara Anisa

Ini cerita tentang Anisa, seorang gadis kecil yang ceria berusia Lima tahun. Pada suatu sore, Anisa menemani Ibunya berbelanja di suatu supermarket. Ketika sedang menunggu giliran membayar, anisa melihat sebentuk kalung mutiara mungil berwarna putih berkilauan, tergantung dalam sebuah kotak berwarna pink yang sangat cantik. Kalung itu nampak begitu indah, sehingga Anisa sangat ingin memilikinya. Tapi... Dia tahu, pasti Ibunya akan berkeberatan. Seperti biasanya, sebelum berangkat ke supermarket dia sudah berjanji tidak akan meminta apapun selain yang sudah disetujui untuk  dibeli. Dan tadi Ibunya sudah menyetujui untuk membelikannya kaos kaki ber-renda yang cantik.  Namun karena kalung itu sangat indah, diberanikannya bertanya, "Ibu, bolehkah Anisa memiliki kalung ini ? Ibu boleh kembalikan kaos kaki yang tadi..."

Sang Bunda segera mengambil kotak kalung dari tangan Anisa. Dibaliknya tertera harga Rp 15,000. Dilihatnya mata Anisa yang memandangnya dengan penuh harap dan cemas.Sebenarnya dia bisa saja langsung membelikan kalung itu, namun ia tak mau bersikap tidak konsisten...

"Oke ... Anisa, kamu  boleh memiliki Kalung ini.  Tapi kembalikan kaos kaki yang kau pilih tadi.  Dan karena harga kalung ini lebih mahal  dari kaos  kaki itu,Ibu akan potong uang tabunganmu untuk minggu depan. Setuju ?"

Anisa mengangguk lega, dan segera berlari riang mengembalikan kaos kaki ke raknya.

"Terimakasih..., Ibu."

Anisa sangat menyukai dan menyayangi kalung mutiaranya. Menurutnya, kalung itu membuatnya nampak cantik dan dewasa. Dia
merasa secantik Ibunya. Kalung itu tak pernah lepas dari lehernya, bahkan ketika tidur. Kalung itu hanya dilepasnya jika dia mandi atau berenang.  Sebab, kata ibunya, jika basah, kalung itu akan rusak, dan membuat lehernya menjadi hijau.

Setiap malam sebelum tidur, ayah Anisa membacakan cerita pengantar tidur. Pada suatu malam, ketika selesai membacakan sebuah cerita, Ayah bertanya, "Anisa..., Anisa sayang Enggak sama Ayah ?"

"Tentu dong... Ayah pasti tahu kalau Anisa sayang Ayah !"

"Kalau begitu, berikan kepada Ayah kalung mutiaramu..."

Yah..., jangan dong  Ayah ! Ayah boleh ambil 'si Ratu' boneka kuda dari nenek... ! Itu kesayanganku juga."

Ya sudahlah sayang,... ngga apa-apa !".  Ayah mencium pipi Anisa sebelum keluar dari kamar Anisa.

Kira-kira seminggu berikutnya, setelah selesai membacakan cerita, Ayah bertanya lagi,  "Anisa..., Anisa sayang
nggak sih, sama Ayah?"

"Ayah, Ayah tahu bukan kalau Anisa sayang sekali pada Ayah?"

"Kalau begitu, berikan pada Ayah Kalung mutiaramu."

"Jangan  Ayah... Tapi kalau Ayah mau, Ayah boleh ambil boneka Barbie ini." Kata Anisa seraya menyerahkan boneka Barbie yang selalu menemaninya  bermain.

Beberapa malam kemudian, ketika Ayah masuk ke kamarnya, Anisa sedang duduk di atas tempat tidurnya. Ketika didekati, Anisa  rupanya sedang menangis diam-diam. Kedua tangannya tergenggam di atas pangkuan. air mata membasahi pipinya...

"Ada apa Anisa, kenapa Anisa ?"

Tanpa berucap sepatah pun, Anisa membuka tangannya. Di dalamnya melingkar cantik kalung mutiara kesayangannya. "Kalau Ayah mau...ambillah kalung Anisa."

Ayah tersenyum mengerti, diambilnya kalung itu dari tangan mungil Anisa. Kalung itu dimasukkan ke dalam kantong celana. Dan dari kantong yang satunya, dikeluarkan sebentuk kalung mutiara putih. Sama cantiknya dengan kalung yang sangat disayangi Anisa.

"Anisa... ini untuk Anisa. Sama bukan? Memang begitu nampaknya, tapi kalung ini tidak akan membuat lehermu menjadi  hijau." Ya..., ternyata Ayah memberikan kalung mutiara asli untuk menggantikan kalung mutiara imitasi Anisa.

Demikian pula halnya dengan Allah S.W.T. terkadang Dia meminta sesuatu dari kita, karena Dia berkenan untuk menggantikannya dengan yang lebih baik. Namun, kadang-kadang kita seperti atau bahkan lebih naif  dari Anisa: Menggenggam erat sesuatu yang kita anggap amat berharga, dan oleh karenanya tidak ikhlas bila harus kehilangan. Untuk itulah perlunya sikap ikhlas, karena kita yakin tidak akan Allah  mengambil sesuatu dari kita jika tidak akan menggantinya dengan yang lebih baik...

39 comments:

  1. barusan dapet imel...
    langsung kopas aja..
    soale bagus banget buat bahan renungan...

    ReplyDelete
  2. sumpeh loh???

    oom Iqbal isih panas?

    ReplyDelete
  3. jangan diam ajah
    ayam tetangga diem2 mati tuh...
    wkwkwkkw...

    ReplyDelete
  4. Lha isih panas ora? yen ora ya syukur berarti posting iki sadar

    ReplyDelete
  5. aihhhhh ....

    aq kan bkn ayam ...
    hihihihi

    ReplyDelete
  6. nah gitu dunk...
    klo ayam kan diem ajah...
    klo manusia ga bole diem...

    ReplyDelete
  7. dari dolo mas iqbal sadar to mas arie.....

    kayak nya yg ga sadar tuh mas arie....hehehe....

    ReplyDelete
  8. umat sudah berkumpul di hanggar...

    ReplyDelete
  9. iqbal sudah tobat ya......

    huuu....(T-T)

    ReplyDelete
  10. ayah.... ayah... kalung mutiara aslinya buat saya aja yah..... jangan kasih annisa yah.......
    yah... pliisss yah.....
    tolong yah.... saya lagi gak punya duit bwat beli potion n ngerepair MAU....

    ayo dong yah..........

    plizzz..,. yah....

    ReplyDelete
  11. suwe ga kekandang mas iqbal..weh makin banyak penggemarnya neh...he..he...turut seneng

    ReplyDelete
  12. weh...komenmu kok suwe suwe mirip sik nduwe omah pii...terinspirasi apa tertulari apa ada insiden lain neh..he..he...

    ReplyDelete
  13. insiden?...sopo sik tabrakan?..ooo insiden lutis dengan cabe lima yah? hihihi

    ReplyDelete
  14. he he he...
    kmana ajah sih fie??
    perut udah segede apa tuh skarang??
    drum band yah??

    ReplyDelete
  15. ini ayah kasih dalant aja yah...
    bwat beli amulet...

    ReplyDelete
  16. yang kalung yang kalung yang kaluuuuuuuuuung!!!..serubu tigaaaaaaaaaa...!!!! sayang anak sayang anaaaaaaaakkk!!!

    ReplyDelete
  17. hah?!!..pantes syerem!!!...*mlayuuuuuuuuuuuu*

    ReplyDelete
  18. hantune lagi mabuk ciuuuuuuuuuuuuuu...!!

    ReplyDelete